Muhammad Al FAtih

Tampilkan postingan dengan label Emmm... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emmm... Tampilkan semua postingan

Seorang pejabat tinggi yang dikenal jujur sedang duduk termenung di ruang kerjanya. Dia bingung memikirkan pulang kampung alias mudik. Mobil yang dimilikinya sudah tua dan daya angkutnya sedikit. Padahal, keluarga dan saudara-saudaranya yang ada di Jakarta ingin mudik bareng dan minta dibayarin olehnya.
Saat dia kebingungan seorang pengusaha tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya sambil berkata, “Pak, diluar ada mobil Alphard model terbaru buat bapak.” Dengan lantang pejabat itu menjawab, “Tidak! Itu gratifikasi atau penyuapan. Saya tidak mau gara gara kamu dapat proyek dari saya kemudian kamu memberi saya upeti berupa mobil itu.” Dengan tenangnya pengusaha itu berkata, “Tenang, pak. Gak ada yang tahu, kok.” Kali ini sambil menggebrak meja pejabat itu berkata keras, “Tidak! Sekali tidak ya tidak! Titik!”
Tidak menyerah pengusaha itu kemudian memberikan solusi, “Pak, bagaimana kalau bapak beli mobil itu dari saya?” Sambil tersenyum pahit pejabat itu menjawab, “Maaf, saya tidak punya uang.”
Dengan cepat pengusaha itu menukas, “Santai, pak. Saya jual murah, 10 ribu rupiah saja.” Wajah pejabat itu berbinar dan ia berkata, “Benar ya 10 ribu per mobil? Pakai kwitansi resmi, ya?” Pengusaha itu mengangguk tanda setuju.
Akhirnya sang pejabat mengeluarkan uang 100 ribu rupiah dari dompetnya dan diberikan kepada pengusaha itu. Sambil menulis kwitansi si pengusaha berkata, “Maaf pak, gak ada kembaliannya.” Dengan mata berbinar pejabat itu menjawab, “Gak apa apa, kirim sembilan lagi mobil model yang sama ke rumah. Jangan lupa kwitansinya, ya…”
Salam SuksesMulia!
Read More …

Ada yang beranggapan seorang pakar itu bahasanya harus terdengar ilmiah dan sulit dipahami. Padahal mestinya ia bisa menyampaikan sesuatu dengan sederhana sehingga mudah dimengerti oleh awam sekalipun. Bagi saya, seseorang yang tidak memiliki gelar akademik sekalipun, bila ia pandai menyederhanakan pesan maka dia pantas disebut pakar.
Kisah berikut bisa menjadi pelajaran tentang hal itu. Seorang pria paruh baya untuk pertama kalinya naik pesawat terbang kelas ekonomi jurusan Surabaya-Jakarta. Di dalam pesawat, karena ketidaktahuannya, dia nyelonong duduk di kelas bisnis. Kebetulan kursi tersebut haknya seorang profesor ternama.
Tibalah sang profesor di pesawat, dengan sopan ia menyapa lelaki tadi, “Maaf pak ini tempat duduk saya.” Sedikit kaget lelaki itu balik bertanya, “Siapa Anda?” Dengan tersenyum sang profesor menjawab, “Saya penumpang yang seharusnya duduk di kursi ini.” Dengan tegas lelaki itu menjawab, “Sama-sama penumpang kok ngatur, ndak mau pindah saya.”
Sang pramugari datang menengahi. Dengan amat sopan ia bertanya, “Bisa lihat tiketnya pak?” Secepat kilat lelaki itu menunjukkan tiketnya kepada pramugari. “Maaf pak, ini kelas bisnis, kalau bapak duduknya di kursi nomor 25A di belakang,” kata sang pramugari cantik itu.
Lelaki tersebut menghardik, “Siapa kamu?”
“Saya Nunun pak, pramugari di pesawat ini.”
“Apa itu pramugari?”
“Kalau di bus pramugari itu kondektur, pak.”
Mendengar jawaban itu, lelaki itu langsung menjawab, “Kondektur kok ngatur-ngatur, ndak mau saya.”
Keributan itu terdengar oleh pilot, maka ia pun turun tangan. “Maaf pak, ini kelas bisnis kalau bapak duduknya di nomor 25A di belakang.”
“Siapa kamu?”
“Saya pilot pak, pilot itu seperti sopir kalau bapak naik bus.”
Disertai emosi lelaki itu berkata, “Sopir kok ngatur-ngatur, ndak mau saya!”
Saat ribut-ribut terjadi, lewatlah mbok Bariah. “Mau kemana pak?” tanya mbok Bariah. Dengan malas lelaki itu menjawab, “Saya mau ke Ragunan Jakarta, mbok.”
Dengan suara tegas mbok Bariah berkata, “Kalau ke Ragunan Jakarta bapak duduknya di nomor 25A di belakang, kalau yang disini jurusan Soekarno-Hatta Tangerang.
“Ohh…” Akhirnya lelaki itupun dengan sukarela pindah ke belakang.
Salam SuksesMulia!
Read More …

Seorang Minang merantau ke Jakarta. Ia memulai usahanya dari kecil dan terus bertumbuh hingga perusahaannya beranak pinak. Namun, ia tetap menjalankan bisnisnya dengan sangat sederhana: Uang masuk disimpan di toples, uang keluar (untuk pembayaran) disimpan di kaleng biskuit.
Suatu hari, anaknya yang baru lulus sekolah bisnis dari Harvard University bertanya, “Ayah ini kuno amat sih. Bagaimana ayah bisa mengelola perusahaan dengan cara tradisional seperti itu? Bagaimana ayah tahu berapa keuntungan perusahaan ayah?”
Sambil mengunyah  sate padang sang ayah menjawab, “Anakku, ketika pertama kali datang ke Jakarta, aku tak punya apa-apa kecuali baju dan celana yang aku pakai. Sekarang, kakak pertamamu sudah menjadi pengusaha besar. Kakak keduamu sudah menjadi dokter spesialis jantung. Sementara adikmu masih kuliah di Oxford University. Dan kamu baru lulus dari salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia.
“Aku tahu ayah, tapi…”
“Aku dan bundamu setiap tahun umroh. Kami tinggal di perumahan mewah. Kami pakai mobil yang bergengsi keluaran terbaru. Perusahaan ayah terus bertambah. Perlu kamu catat, ayah dan bundamu tidak punya hutang sama sekali. Jadi sekarang kau jumlahkan yang ayah sebut tadi kemudian kurangkan dengan baju dan celana, maka itulah keuntungan yang kita dapat selama ini…”
Salam SuksesMulia!
Read More …