Muhammad Al FAtih

Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana lazimnnya keluarga istana, hidup dalam kemewahan; pakaian yang dikenakannya pun halus; makanan yang dimakannya pun mewah. Ketika berjalan, semua orang akan mengenalnya, karena bekas yang ditinggalkannya menebarkar aroma Misk (wangi). Rambutnya yang selalu tersisir rapi, penampilannya perlente dan kren. Itulah seorang Umar bin Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah. Namun, ketika menjadi khalifah, semua kenikmatan itu dia tinggalkan. Jabatan itu telah mengubah hidupnya. Ketika menjadi khalifah, justru dia bersikap zuhud, menjauhi kemewahan dan hiasan dunia. Dia sangat menghayati setiap rincian  tanggung jawabnya hingga bersikap keras pada diri dan keluarganya. Tampaknya, dia ingin menebus gaya hidupnya yang bergelimang harta dan kenikmatan sebelum menjadi khalifah, dengan kesederhanaan rakyatnya. Sampai, dia pun menolak menaiki kendaraan Khilafah untuk menghindari kebesaran dan kemewahan. Tidak hanya terhadap dirinya, istri dan anak-anaknya pun tak luput dari sikap yang sama (at-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, VI/552-553).
Semuanya itu bukan tanpa sengaja. Sikap, atau tepatnya pilihan kebijakannya itu berdampak besar pada Khilafah Umayyah ketika itu. Umar berkeyakinan, jika tekad dan komitmen dia sebagai penguasa Muslim tersebut benar dan lurus, disertai rasa tanggung jawab yang tinggi pada ummat Islam di hadapan Allah SWT, maka dia yakin akan mampu meluruskan berbagai kondisi menyimpang dan mengembalikan mereka yang melakukan pelanggaran ke jalan yang lurus. Di antaranya, dia mengembalikan baiat yang diperoleh melalui wiratsah (penunjukan) kepada kaum Muslim, selanjutnya dia meminta mereka untuk membaiat siapa saja yang mereka kehendaki dengan suka rela (bi ar-ridha wa al-ikhtiyar). Namun, mereka tetap menginginkan seorang Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi Khalifah mereka.
Keyakinan, sikap dan kebijakannya itu diikuti dengan tindakan nyata. Umar bin Abdul Aziz jauh dari sikap sombong para penguasa (raja); zuhud terhadap kekuasaan, dan tidak bersikap tamak (ambisius). Boleh jadi, karena jabatan yang disandangnya, yaitu Khilafah itu mendatanginya, bukan dia yang mencari jabatan itu. Umar berhasil mengembalikan sosok para Khulafaur Rasyidin sebelumnya pada dirinya.
Dalam pidato pengangkatannya, dia menyatakan, “Wahai manusia, tidak ada Kitab setelah Alquran. Tidak ada Nabi setelah Muhammad SAW. Aku bukanlah hakim, tetapi hanya pelaksana. Aku bukanlah ahli bid’ah yang membuat perkara baru, tetapi hanya melanjutkan. Orang yang melarikan diri dari imam (penguasa) yang zalim, bukanlah zalim, kecuali imam yang zalim itulah justru orang yang melakukan maksiat. Ingat, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada al-Khaliq.” Dalam riwayat lain dituturkan, “Aku bukanlah orang terbaik di antara kalian, tetapi aku adalah orang yang paling berat bebannya. Ingat, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada al-Khaliq..” (Ibn Sa’ad, at-Thabaqat al-Kubra, V/340).
Read More …

Bila diajukan pertanyaan kepada Anda, “Apakah Anda sendiri yang mengukir kisah hidup Anda, atau Anda membiarkan orang lain dan keadaan yang mengukir hidup Anda?” Kira-kira, apa jawaban Anda? Mungkin sebagian Anda akan menjawab, “Ya, tidak tahulah mas Jamil, tapi rasa-rasanya sih saya sendiri yang mengukir kisah hidup saya…”
Untuk membantu menemukan jawaban itu, mari kita rujuk tulisan Scott Young.  Dalam salah satu artikelnya Scott Young  menuliskan beberapa ciri yang menunjukkan bahwa Anda dikontrol oleh orang lain atau keadaan. Pertama, Anda tidak menyukai pekerjaan Anda, tetapi Anda bertahan di tempat itu. Mengapa Anda bertahan? boleh jadi karena Anda sudah terlanjur merasa ‘aman’ dan ‘comfort’ dengan apa yang Anda dapatkan. Atau  boleh jadi karena tekanan orang-orang di sekitar Anda.
Ciri kedua, hidup Anda selalu disibukkan dengan melunasi satu tagihan dan tagihan berikutnya.  Parahnya lagi, apabila tagihan Anda semakin lama bukannya semakin berkurang tetapi malah semakin bertambah.  Setiap saat debt collector  dari koperasi, kartu kredit, bank, rentenir datang menghampiri rumah atau kantor Anda.
Ciri ketiga, Anda merasa bertanggungjawab untuk melaksanakan sesuatu yang sebenarnya tidak Anda sukai. Tapi mau tidak mau, harus dikerjakan.
“Nah, kalau begitu bagaimana caranya agar saya bisa mengukir kisah hidup saya sendiri?” Berikut saya kutip beberapa pendapat Scott Young dalam artikelnya tersebut.
Aturan pertama, jangan pernah biarkan siapa pun mendikte hidup Anda. Sekalipun ia adalah orangtua Anda, pasangan Anda, anak Anda, atasan Anda, atau siapa pun. Bersikaplah terbuka terhadap semua masukan dari siapa pun, namun pastikan bahwa keputusan final ada di tangan Anda. Termasuk diantaranya dalah urusan karir, pendidikan, hubungan, dan seterusnya. Ingatlah selalu, ini adalah hidup Anda, Anda-lah pemain utamanya, dan Anda kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta.
Aturan kedua, kendalikan keuangan Anda dan jangan biarkan uang yang mengatur Anda. Mengapa? Karena uang bisa menjadi sumber daya yang memajukan hidup Anda, atau menjadi penjerat yang mengatur hidup Anda. Kebebasan finansial bukanlah tentang  kemampuan untuk bisa membeli seluruh barang mewah yang Anda inginkan di dunia, melainkan juga bisa berarti kemampuan menjadikan uang sebagai alat, dan bukan sebagai perusak hidup Anda.
Aturan ketiga, apa pun yang menjadi kekurangan Anda, yakinlah bahwa itu bisa dilatih dan ditingkatkan. Jadi, kalau ada yang mengatakan Anda kurang ini atau kurang itu, jangan pesimis. Tanamkanlah dalam pikiran Anda asumsi bahwa saat ini Anda hanya belum menggali secara maksimal kekuatan Anda di bidang itu. Setelah itu, belajar dan kembangkanlah diri Anda setiap waktu.
Semoga Anda sendirilah yang mengukir hidup Anda.
Read More …

Bila kemarin kita sudah membahas tujuan umum orang berbisnis, batasan-batasan menjalankan bisnis, lalu bagaimana kita harus memulai bisnis?
Hal utama yang harus kita persiapkan sebelum memulai berbisnis adalah niat dan kemauan kuat dari dalam diri kita untuk berubah, tentu berubah menjadi seorang pebisnis/pengusaha. Allah SWT dalam QS ar-ra’du ayat 11 memberikan penjelasan kepada kita :
“Sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum, sebelum kaum tersebut merubah apa yang ada dalam dirinya”.
Memulai Bisnis
Kendala umum yang dihadapi oleh kita, ketika kita sudah mempunyai keinginan memulai bisnis adakalanya modal, ide bisnis ataupun. skill Namun anda ndak perlu cemas, karena berbisnis sebenarnya bisa kita lakukan dengan menggunakan laverage, yakni menggunakan kekuatan orang lain. Adapun kekuatan orang lain yang bisa kita gunakan dalam membangun bisnis adalah modal, keahlian, ide, tenaga dan waktu orang lain.
Modal
Membangun bisnis tidak selalu harus di awali dengan modal besar. Kita bisa memualai dengan modal yang kecil bila memang niat kita sudah bulat untuk memulai membangun sebuah  usaha. Orang-orang sukses dalam membangun bisnis disekitar kita, mayoritas juga di awali dari modal kecil dan juga langka-langka kecil. Namun apabila ternyata modal ini tidak kita miliki, kita bisa menggunakan modal orang lain untuk membangun bisnis.
Ya… modal orang lain. Hanya saja, modal ini haruslah halal sehingga kelak bisnis yang kita bangun ini membawa keberkahan. Lalu bagaimana kita menggunakan modal orang lain ini untuk menggunakan bisnis? Islam mengajarkan kepada kita dengan cara melakukan syirkah mudlorobah, perserikatan dua orang atau lebih dimana satu pihak menjadi pengelola dan pihak lainnya menjadi pemodal. Inilah cara syar’iey yang di ajarkan di dalam Islam.
Keahlian
Jangan takut menjalankan bisnis bila tidak memiliki keahlian. Saya hari ahad, 5 Juni 2011 lalu satu forum di seminar Enterpreneurship yang diadakan STITM Kediri, dengan orang luar biasa,  Bapak Tiok owner bakso Radja yang saat ini memiliki 9 outlet di beberapa kota. Sebagai pengusaha automotif, tentu beliau tidak menguasai perihal pembuatan bakso.
Begitu pula dengan  saya, dalam membangun bisnis  catering aqiqahberkah.com, sayapun tidak punya keahlian untuk memasak sate, gule, kambing guling, krengsengan, lapis, tongseng atau olahan masakan lain berbasis kambing tersebut. Kita berdua dan mayoritas pengusaha lain sebenarnya juga menggunakan keahlian orang lain untuk membangun bisnis.
Ide
Bila anda mempunyai modal, tetapi tidak punya ide bisnis. Maka sangat mudah bagi anda untuk memulai bisnis. Anda tinggal menggandeng orang lain, atau perusahaan orang lain yang sudah berjalan, dengan cara bekerjasama. Bisa dengan syirkah (kelak akan kita bahas sampai tuntas apa dan bagaimana syirkah) atau waralaba. Hanya untuk waralaba ini, anda harus memerika barang yang dijual (halal haramnya) dan tentu yang paling urgent adalah aqad (perjanjian) kerjanya, pastikan tidak ada pelanggaran terhadap hukum islam.
Tenaga dan waktu
Hmm, jangan keras-keras. Ternyata dalam membangun bisnis kita juga bisa menggunakan tenaga dan waktu orang lain lho. Ya mengangkat karyawan, hakikatnya adalah menggunakan tenaga dan waktu orang lain. Syirkah, bila kita berposisi sebagai pemodal, maka kita hakikatnya juga telah menggunakan orang lain dalam menjalankan bisnis.
Insan mulia sukses berkah, insya Allah kita bisa memulai untuk menjalan bisnis. Karena ternyata kita bisa menggunakan kekuatan orang lain dalam membangun bisnis.
Read More …

“Dua telapak kaki manusia akan selalu tegak (di hadapan Allah SWT), hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskana, tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia korbankan (HR. Tirmidzi dari Abu Barzah ra).
Hadits ini mengabarkan kepada kita, terkait pertanyaan Allah SWT kelak di yaumil akhir.  Berbeda dengan pemberian Allah SWT yang di anugerahkan kepada kita, berupa umur, ilmu dan tubuh kita, hanya ditanya semua itu  kita pergunakan untuk apa? Ternyata Allah SWT menghisab harta kita dengan dua pertanyaan, pertama darimana harta yang kita kita miliki itu kita dapatkan, kedua setelah mendapatkan harta, maka pertanyaannya adalah untuk apa harta tersebut kita pergunakan?
Dua pertanyaan ini haruslah menjadi guide bagi kita sebelum kita memutuskan untuk bekerja dan atau menjadi pengusaha. Di situlah kunci keberkahan akan kita dapatkan. Berkah berarti ziadatul khoir, terus bertambahnya kebaikan yang kita lakukan dan atau kita dapatkan.0leh karenanya menjadi sangat penting bagi kita untuk memahami dan juga menyiapkan renstra (rencana strategis) terkait dengan dua pertanyaan tersebut.Dari mana harta tersebut kita dapatkan dan untuk apa harta tersebut setelah kita peroleh.
Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini mencari harta halal itu bukanlah perkara yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa di lakukan. Itu bisa melakukan hal tersebut tidak ada pilihan lain kecuali kita harus mafhum (mafhum itu artinya mengetaui teorinya sekaligus bisa menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari kita), jadi tidak cukup hanya mengetahui saja.
Mafhum tentang seperangkat hukum Islam terkait dengan fiqh mu’amalah. Itulah yang harus kita lakukan sebelum kita memutuskan untuk memulai menjadi pebisnis/pengusaha.
Berikut saya berikan contoh-contoh aktivitas yang menyebabkan harta kita tidak berkah :
  • Berjualan barang haram.
  • Menggunakan uang riba sebagai modal kerja, perlu di cermati juga ternyata membanjirnya bank-bank syari’ah belum mencerminkan 100 % terbebas dari praktik riba.
  • Menipu.
  • Riswah (suap), deliknya bisa berupa fee, discount dari sebuah proyek tetapi tidak di masukkan ke kas perusahaan/kas negara alias masuk saku pribadi,gratifikasi dll.
  • jual beli ijon.
  • Dua  transaksi dalam satu akad, sering terjadi pada leasing, dll.
Tidak cukup disitu, kita juga harus membelanjakan uang kita dengan cara-cara yang di perbolehkan Allah SWT dan Rasulnya. Kita tidak boleh sedikitpun membelanjakan harta kita untuk hal-hal yang di larang oleh Allah SWT dan Rasulnya.
Insan mulia sukses berkah, insya Allah dengan memperhatikan sumber dari harta yang kita dapatkan, serta menggunakan hasilnya sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT menjadikan harta kita menuai keberkahan yang berdampak pada ridlo Allah SWT.
Read More …

Menjadi pebisnis, apalagi pebisnis sukses menjadi dambaan banyak orang. Saat ini para pebisnispun mulai bermunculan. Ini tentu membahagiakan, karena bisa memutus mata rantai ketergantungan akan penyediaan lapangan pekerjaan.
Semakin banyak pebisnis, maka secara otomatis akan mengurangi pengangguran yang tentu akan berdampak positif bagi masyarakat. Adapun tujuan umum orang melakukan bisnis Pertama adalah meraih profit, bukan gaji. Kedua meraih kebebasan waktu Ketiga meraih kebebasan pikiran. Keempat meraih kebebasan Keuangan.
Meraih Profit
Menjadi pebisnis berarti melakukan salah satu aktifitas dari tiga hal berikut yakni usaha sendiri (selft emplyed), bisnis owner dan atau menjadi investor. Karenanya seorang pebisnis bukanlah karyawan yang inginmendapatkan gaji. Ia menggantungkan pendapatan dari usaha yang diupayakannya. Besar kecil pendapatan (profit) tentu sangat tergantung sejauh mana usaha yang di jalankan tersebut meraih keberhasilan.
Sehingga seorang pebisnis dituntut untuk memiliki mentalitas yang tinggi untuk sanggup menerima apapun yang akan terjadi, tidak hanya siap untuk meraih keberhasilan, tetapi juga siap untuk mendapatkan kebangkrutan. Siap untuk tidak mendapatkan sesuatu (profit),  kecuali mendapatkan pengalaman yang akan semakin menempa dia menjadi seorang pebisnis hebat, tahan banting dan penuh semangat, tanpa kenal lelah untuk berusaha dan terus berusaha.
Meraih Kebebasan Waktu
Tujuan kedua, seseorang ingin menjadi pebisnis adalah ingin mendapatkan kebebasan waktu. Kebebasan waktu maknanya adalah memiliki waktu yang memadai untuk menjalankan aktifitas-aktifitas di luar urusan mencari harta. Bagi seorang bapak ia bisa lebih banyak mendidik  anak dan membangun keharmonisan dalam  keluarga, bagi seorang pengemban dakwah dia lebih banyak bisa mencurahkan waktu dan pikiran mereka untuk meninggihkan kalimat Allah, pun dia juga bisa  pergi kemana saja (asal bukan untuk bermaksiat kepada Allah SWT), pergi kapan saja dia mau tanpa harus di kejar-kejar waktu. Pendek kata kita bisa mengatur waktu tanpa harus terikat dan dikejar waktu.
Kebebasan pikiran
Kebebasan pikiran yang saya maksudkan disini bukanlah huriyatul ro’yu (kebebasan pemikiran) dalam sistem kapitalis yang mengangap bahwa manusia boleh berpendapat sesuka dia, sekalipun menerjang norma-norma agama. Kebebasan pikiran yang saya maksudkan adalah,  bahwa ketika sesorang telah meraih tujuan dalam berbisnis maka dia bebas untuk melakukan apa saja yang dia raih asal tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT.
Dia juga bebas untuk membeli apa saja asal tidak melakukan tabdir dan isyrof (tidak membelanjaan kekayaan walaupun sedikit di jalan yang diharamkan Allah)  dalam membelanjakan kekayaannya. Dia juga punya kebebasan untuk mengembangkan bisnis dan investasinya, tentu lagi-lagi tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Dst.
Kebebasan Keuangan
Ini adalah puncak yang ingin di dapatkan bagi siapapun yang ingin menjalankan bisnis, yaitu  kebebasan keuangan. Sesorang dianggap telah mendapatkan kebebasan keuangan apabila dia telah mampu mendapatkan penghasilan untuk mencukupi seluruh kebutuhannya, baik kebutuhan primer, sekunder bahkan kebutuhan tersier melalui passive income, artinya dia mendapatkan pemenuhan untuk mencukupi segala kebutuhan tersebut tidak lagi dengan cara bekerja keras, tidak dengan cara active income,  menguras tenaga dan pikiran kita untuk mendapatkan pendapatan tersebut.
Insan mulia sukses berkah, apabila tujuan umum bisnis ini bisa kita raih maka kita  harus menggunakannya dengan cara yang benar. Insya Allah besok kita akan mulai membahas langkah apa yang harus kita lakukan agar bisnis kita ini tidak hanya bisa tumbuh, tetapi juga mengalami keberkahan.
Mohon di share kepada siapa saja apabila tulisan ini bermanfaat.
Read More …

Seorang pejabat tinggi yang dikenal jujur sedang duduk termenung di ruang kerjanya. Dia bingung memikirkan pulang kampung alias mudik. Mobil yang dimilikinya sudah tua dan daya angkutnya sedikit. Padahal, keluarga dan saudara-saudaranya yang ada di Jakarta ingin mudik bareng dan minta dibayarin olehnya.
Saat dia kebingungan seorang pengusaha tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya sambil berkata, “Pak, diluar ada mobil Alphard model terbaru buat bapak.” Dengan lantang pejabat itu menjawab, “Tidak! Itu gratifikasi atau penyuapan. Saya tidak mau gara gara kamu dapat proyek dari saya kemudian kamu memberi saya upeti berupa mobil itu.” Dengan tenangnya pengusaha itu berkata, “Tenang, pak. Gak ada yang tahu, kok.” Kali ini sambil menggebrak meja pejabat itu berkata keras, “Tidak! Sekali tidak ya tidak! Titik!”
Tidak menyerah pengusaha itu kemudian memberikan solusi, “Pak, bagaimana kalau bapak beli mobil itu dari saya?” Sambil tersenyum pahit pejabat itu menjawab, “Maaf, saya tidak punya uang.”
Dengan cepat pengusaha itu menukas, “Santai, pak. Saya jual murah, 10 ribu rupiah saja.” Wajah pejabat itu berbinar dan ia berkata, “Benar ya 10 ribu per mobil? Pakai kwitansi resmi, ya?” Pengusaha itu mengangguk tanda setuju.
Akhirnya sang pejabat mengeluarkan uang 100 ribu rupiah dari dompetnya dan diberikan kepada pengusaha itu. Sambil menulis kwitansi si pengusaha berkata, “Maaf pak, gak ada kembaliannya.” Dengan mata berbinar pejabat itu menjawab, “Gak apa apa, kirim sembilan lagi mobil model yang sama ke rumah. Jangan lupa kwitansinya, ya…”
Salam SuksesMulia!
Read More …

Ada yang beranggapan seorang pakar itu bahasanya harus terdengar ilmiah dan sulit dipahami. Padahal mestinya ia bisa menyampaikan sesuatu dengan sederhana sehingga mudah dimengerti oleh awam sekalipun. Bagi saya, seseorang yang tidak memiliki gelar akademik sekalipun, bila ia pandai menyederhanakan pesan maka dia pantas disebut pakar.
Kisah berikut bisa menjadi pelajaran tentang hal itu. Seorang pria paruh baya untuk pertama kalinya naik pesawat terbang kelas ekonomi jurusan Surabaya-Jakarta. Di dalam pesawat, karena ketidaktahuannya, dia nyelonong duduk di kelas bisnis. Kebetulan kursi tersebut haknya seorang profesor ternama.
Tibalah sang profesor di pesawat, dengan sopan ia menyapa lelaki tadi, “Maaf pak ini tempat duduk saya.” Sedikit kaget lelaki itu balik bertanya, “Siapa Anda?” Dengan tersenyum sang profesor menjawab, “Saya penumpang yang seharusnya duduk di kursi ini.” Dengan tegas lelaki itu menjawab, “Sama-sama penumpang kok ngatur, ndak mau pindah saya.”
Sang pramugari datang menengahi. Dengan amat sopan ia bertanya, “Bisa lihat tiketnya pak?” Secepat kilat lelaki itu menunjukkan tiketnya kepada pramugari. “Maaf pak, ini kelas bisnis, kalau bapak duduknya di kursi nomor 25A di belakang,” kata sang pramugari cantik itu.
Lelaki tersebut menghardik, “Siapa kamu?”
“Saya Nunun pak, pramugari di pesawat ini.”
“Apa itu pramugari?”
“Kalau di bus pramugari itu kondektur, pak.”
Mendengar jawaban itu, lelaki itu langsung menjawab, “Kondektur kok ngatur-ngatur, ndak mau saya.”
Keributan itu terdengar oleh pilot, maka ia pun turun tangan. “Maaf pak, ini kelas bisnis kalau bapak duduknya di nomor 25A di belakang.”
“Siapa kamu?”
“Saya pilot pak, pilot itu seperti sopir kalau bapak naik bus.”
Disertai emosi lelaki itu berkata, “Sopir kok ngatur-ngatur, ndak mau saya!”
Saat ribut-ribut terjadi, lewatlah mbok Bariah. “Mau kemana pak?” tanya mbok Bariah. Dengan malas lelaki itu menjawab, “Saya mau ke Ragunan Jakarta, mbok.”
Dengan suara tegas mbok Bariah berkata, “Kalau ke Ragunan Jakarta bapak duduknya di nomor 25A di belakang, kalau yang disini jurusan Soekarno-Hatta Tangerang.
“Ohh…” Akhirnya lelaki itupun dengan sukarela pindah ke belakang.
Salam SuksesMulia!
Read More …

Seorang Minang merantau ke Jakarta. Ia memulai usahanya dari kecil dan terus bertumbuh hingga perusahaannya beranak pinak. Namun, ia tetap menjalankan bisnisnya dengan sangat sederhana: Uang masuk disimpan di toples, uang keluar (untuk pembayaran) disimpan di kaleng biskuit.
Suatu hari, anaknya yang baru lulus sekolah bisnis dari Harvard University bertanya, “Ayah ini kuno amat sih. Bagaimana ayah bisa mengelola perusahaan dengan cara tradisional seperti itu? Bagaimana ayah tahu berapa keuntungan perusahaan ayah?”
Sambil mengunyah  sate padang sang ayah menjawab, “Anakku, ketika pertama kali datang ke Jakarta, aku tak punya apa-apa kecuali baju dan celana yang aku pakai. Sekarang, kakak pertamamu sudah menjadi pengusaha besar. Kakak keduamu sudah menjadi dokter spesialis jantung. Sementara adikmu masih kuliah di Oxford University. Dan kamu baru lulus dari salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia.
“Aku tahu ayah, tapi…”
“Aku dan bundamu setiap tahun umroh. Kami tinggal di perumahan mewah. Kami pakai mobil yang bergengsi keluaran terbaru. Perusahaan ayah terus bertambah. Perlu kamu catat, ayah dan bundamu tidak punya hutang sama sekali. Jadi sekarang kau jumlahkan yang ayah sebut tadi kemudian kurangkan dengan baju dan celana, maka itulah keuntungan yang kita dapat selama ini…”
Salam SuksesMulia!
Read More …

Saya dulu memaki Roberto Baggio gara-gara dia gagal mengeksekusi tendangan penalti. Akibatnya, kesebelasan Italia tersingkir dari kejuaraan dunia sepakbola sejagad saat itu. Yang memaki Baggio ketika itu ternyata bukan hanya saya. Komentator di televisi para pendukung kesebelasan Italia di seluruh dunia dan pecandu sepak bola di Italia turut mencercanya.
Apakah setelah itu Roberto Baggio berhenti menjadi pemain sepakbola? Tidak! Apakah lelaki itu kehilangan penghasilan dari sepakbola? Juga tidak… Lantas, apa yang saya peroleh dari memaki? Apa juga yang diperoleh oleh para penggila bola Italia? Saya dan mereka tidak memperoleh apa-apa.
Ya, Insan SuksesMulia… para pemain tidak kehilangan penghasilan dan bahkan terus memperoleh penghasilan. Sementara para penonton tidak memperoleh satu rupiahpun bahkan harus terus membayar tiap kali menyaksikan pertandingan.
Begitupula dalam kehidupan sehari-hari, bila kita sibuk menjadi komentator dan penonton kita tidak akan memperoleh apa-apa. Bila Anda ingin memperoleh sesuatu, Anda harus menjadi pemain, Anda harus menjadi pelaku, Anda harus action sendiri dan tak boleh diwakilkan. Tatkala Anda diberi target oleh pimpinan, Anda berusaha dengan keras untuk meraih target itu. Anda mencari cara dan upaya agar target itu tercapai itulah pemain, itulah pelaku.
Namun bila Anda sibuk mengomentari target dari pimpinan, misalnya, “Targetnya ketinggian bos, tidak realistis bos, nanti kalau tercapai tahun depan target kita dinaikkin lebih besar lagi dari kantor pusat.” Bukan hanya itu, Anda juga malah sibuk mempengaruhi angota tim yang lain agar pimpinan mengubah targetnya. Nah, bila Anda mengambil sikap seperti ini Anda adalah penonton. Anda tidak akan dapat apa-apa, bahkan mungkin Anda akan kehilangan posisi dan pekerjaan Anda.
Insan SuksesMulia… berhentilah jadi penonton, jadilah pemain dalam kehidupan karena pemainlah yang penghasilannya terus meningkat, dikenal oleh banyak orang dan mendapat penghargaan serta piala. Ayo jadilah pemain!
Salam SuksesMulia! Bila dirasa manfaat silahkan tulisan ini dishare ke para sahabat Anda..
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @JamilAzzani
Read More …

Bila diajukan pertanyaan kepada Anda, “Apakah Anda sendiri yang mengukir kisah hidup Anda, atau Anda membiarkan orang lain dan keadaan yang mengukir hidup Anda?” Kira-kira, apa jawaban Anda? Mungkin sebagian Anda akan menjawab, “Ya, tidak tahulah mas Jamil, tapi rasa-rasanya sih saya sendiri yang mengukir kisah hidup saya…”
Untuk membantu menemukan jawaban itu, mari kita rujuk tulisan Scott Young.  Dalam salah satu artikelnya Scott Young  menuliskan beberapa ciri yang menunjukkan bahwa Anda dikontrol oleh orang lain atau keadaan. Pertama, Anda tidak menyukai pekerjaan Anda, tetapi Anda bertahan di tempat itu. Mengapa Anda bertahan? boleh jadi karena Anda sudah terlanjur merasa ‘aman’ dan ‘comfort’ dengan apa yang Anda dapatkan. Atau  boleh jadi karena tekanan orang-orang di sekitar Anda.
Ciri kedua, hidup Anda selalu disibukkan dengan melunasi satu tagihan dan tagihan berikutnya.  Parahnya lagi, apabila tagihan Anda semakin lama bukannya semakin berkurang tetapi malah semakin bertambah.  Setiap saat debt collector  dari koperasi, kartu kredit, bank, rentenir datang menghampiri rumah atau kantor Anda.
Ciri ketiga, Anda merasa bertanggungjawab untuk melaksanakan sesuatu yang sebenarnya tidak Anda sukai. Tapi mau tidak mau, harus dikerjakan.
“Nah, kalau begitu bagaimana caranya agar saya bisa mengukir kisah hidup saya sendiri?” Berikut saya kutip beberapa pendapat Scott Young dalam artikelnya tersebut.
Aturan pertama, jangan pernah biarkan siapa pun mendikte hidup Anda. Sekalipun ia adalah orangtua Anda, pasangan Anda, anak Anda, atasan Anda, atau siapa pun. Bersikaplah terbuka terhadap semua masukan dari siapa pun, namun pastikan bahwa keputusan final ada di tangan Anda. Termasuk diantaranya dalah urusan karir, pendidikan, hubungan, dan seterusnya. Ingatlah selalu, ini adalah hidup Anda, Anda-lah pemain utamanya, dan Anda kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta.
Aturan kedua, kendalikan keuangan Anda dan jangan biarkan uang yang mengatur Anda. Mengapa? Karena uang bisa menjadi sumber daya yang memajukan hidup Anda, atau menjadi penjerat yang mengatur hidup Anda. Kebebasan finansial bukanlah tentang  kemampuan untuk bisa membeli seluruh barang mewah yang Anda inginkan di dunia, melainkan juga bisa berarti kemampuan menjadikan uang sebagai alat, dan bukan sebagai perusak hidup Anda.
Aturan ketiga, apa pun yang menjadi kekurangan Anda, yakinlah bahwa itu bisa dilatih dan ditingkatkan. Jadi, kalau ada yang mengatakan Anda kurang ini atau kurang itu, jangan pesimis. Tanamkanlah dalam pikiran Anda asumsi bahwa saat ini Anda hanya belum menggali secara maksimal kekuatan Anda di bidang itu. Setelah itu, belajar dan kembangkanlah diri Anda setiap waktu.
Semoga Anda sendirilah yang mengukir hidup Anda.
Read More …

Dalam dunia marketing ada satu istilah yang sangat populer yaitu segmentasi. Secara sederhana, segmentasi dalam kehidupan sehari-hari bermakna pembagian berdasarkan “kelas”.  Ada kelas bawah, kelas menengah, kelas atas, kelas premium dan sebagainya. Masing-masing “kelas” punya bahasanya sendiri.  Bahasa itu berupa selera, penampilan, etika pergaulan, gaya hidup dan sejenisnya.  Bila kita ingin masuk ke pergaulan kelas tertentu, kita harus menyesuaikan  bahasa “kelas” yang dituju.
Namun ajaibnya, ada orang-orang yang tidak mengikuti aturan di atas.  Orang-orang ajaib ini mampu masuk ke dalam “kelas” yang berbeda mulai dari kelas bawah hingga premium, laki-laki – perempuan, suku a – suku b, agama langit – agama bumi, karyawan – pengusaha dan seterusnya.
Lalu bagaimana mengukur “keajaiban” orang-orang yang mampu masuk ke beragam “kelas” ini? Mudah saja, seberapa besar ia menjadi sosok yang dikenal, dikagumi, dan dicintai orang dari berbagai kalangan.  “Produk” atau “buah karya” yang dihasilkan oleh orang tersebut dinikmati oleh banyak kalangan tanpa ada rasa gengsi, minder atau bahkan merasa “gak level.”
Insan SuksesMulia, untuk bisa masuk ke semua kelas ternyata tidak melulu Anda harus mengubah diri hingga menyerupai semua “kelas” yang ingin Anda masuki.  Tidak perlu Anda harus mengubah “bahasa” Anda setiap waktu. Melainkan cukup Anda menguasai bahasa universal yang bisa dipahami dan berlaku di semua “kelas”.
Bahasa apa yang bisa dipahami dan diterima semua “kelas” tersebut? Bahasa yang saya maksud adalah bahasa yang di dalamnya terkandung empat semangat yang melandasi setiap kata dan gerak Anda:
  • Semangat pertama adalah semangat ketulusan
  • Semangat kedua adalah semangat kerendahan hati dan membumi
  • Semangat ketiga adalah semangat memberi manfaat untuk orang banyak
  • Semangat keempat adalah semangat untuk memberi, bukan menuntut
Dengan menggunakan “bahasa” yang didasari keempat semangat tersebut, Anda bisa masuk  dan diterima di “kelas” pergaulan manapun.  Nama Anda dikenal, dihormati, disegani dan ada di hati mereka.
So, balutlah setiap kata dan gerak Anda dengan keempat semangat itu. Saya yakin Anda akan disegani penduduk bumi dari “kelas” manapun dan dicintai para penghuni langit. Siap? Laksanakan!
Salam SuksesMulia!
Read More …

[Al Islam 577] Hanya dalam hitungan hari ke depan, jutaan orang dari kaum Muslim berkumpul di Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka datang dari berbagai belahan dunia, beragam warna kulit, bahasa, suku, bangsa, profesi, status sosial, dsb. Mereka semua berkumpul untuk memenuhi panggilan yang satu, yaitu dalam rangka menunaikan kewajiban mengerjakan haji yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka (QS Ali Imran [3]: 97). Mereka rela berkorban untuk menunaikannya dan bersemangat mengerjakan semua rangkaian ibadah semata ingin meraih apa yang disabdakan Rasul saw:
« مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ »
Barangsiapa mengerjakan ibadah haji karena Allah dan tidak melakukan perbuatan kotor dan fasik, niscaya ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan oleh ibunya.(HR. Bukhari & Muslim).
Tak Sebatas Ibadah Ritual
Ibadah haji dalam sejarah kehidupan umat Islam sejak masa Rasul saw dan masa berikutnya sangat sarat dengan makna dan memiliki pengaruh besar dalam jalannya kehidupan umat dan perjuangan mereka. Pengaruh ibadah haji itu bagi kehidupan dan perjuangan itu masih bisa dirasakan di negeri ini hingga pada masa penjajahan Belanda. Dengan ibadah haji, kaum muslim dahulu mendapatkan pencerahan politik dan terbangkitkan spirit perjuangan mereka. Pengaruh ideologis dan politis inilah yang menyebabkan Belanda khawatir. Karena itu, tahun 1908 Belanda pernah menegaskan bahwa melarang umat Islam berhaji akan lebih baik daripada terpaksa harus menembak mati mereka. (H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, hlm.22).
Namun sayang saat ini ibadah haji seolah kehilangan makna dan pengaruh politis dan perjuangannya. Pelaksanaan haji kian hari kian menurun kualitasnya. Yang menonjol dari haji kini hanyalah ibadah ritual belaka. Banyak jamaah yang melaksanakan ibadah ini hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Lebih parah lagi tak sedikit yang menjalankannya seolah wisata reliji bahkan banyak dihiasi wisata belanja. Ibadah haji saat ini nyaris tak lagi terasa berpengaruh nyata dalam perbaikan kondisi umat.
Betul ibadah haji memang merupakan ibadah mahdhah. Dalam pelaksanaannya memang harus sangat kental dengan makna ruhiyah dan spiritual, tapi tentu saja tidak boleh menjadi sekadar ritual belaka. Meski merupakan ibadah mahdhah, namun bukan berarti tidak boleh dihiasi dengan makna selain makna ruhiyah seperti makna politis, ideologis dan perjuangan. Sebab Allah SWT di dalam al-Quran sendiri berfirman:
…وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ﴿٢٧﴾ لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
Dan serukan kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS al-Hajj [22]: 27-28)
Ibn Abbas dan Mujahid berkata: “yaitu manfaat dunia dan akhirat” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim). Makna politis, ideologis, perjuangan, dsb itu merupakan bagian dari apa yang disebut “hikmah haji”, yaitu manfaat-manfaat yang dapat dipersaksikan oleh jamaah haji saat mereka menunaikan haji. Ayat ini menunjukkan, dalam ibadah haji kaum Muslimin akan mendapatkan berbagai manfaat yang sangat strategis dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam aspek politik (Ali bin Nayif As-Syahud, Al-Khulashah fi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah, hlm.2)
Momentum Campakkan Sekulerisme
Ibadah haji mengajarkan untuk mengadopsi Islam secara kaffah. Ibadah haji mengajarkan bahwa Islam tidak memisahkan urusan ibadah, keluarga, moral dengan masalah politik, pemerintahan, ekonomi, pidana, sosial dan semua aspek kehidupan. Hal itu tercermin dalam khutbah yang disampaikan Nabi saw pada saat haji Wada’. Rasul saw menyebutkan masalah akidah; kewajiban shalat lima waktu, zakat dan puasa Ramadhan. Beliau juga menyatakan hukum seputar suami isteri; keharaman darah dan kehormatan kaum Muslim; kewajiban mentaati ulil amri; menyatakan masalah pemilikan harta, dan kewajiban menghapus segala bentuk riba. Semua itu menunjukkan bahwa Islam dan syariahnya itu harus diambil dan diterapkan secara keseluruhan. Dengan menghayati makna tersebut, maka ibadah haji akan memberikan semangat besar untuk mencampakkan sekulerisme dan mengadopsi serta menerapkan Islam dan syariahnya secara total.
Membangkitkan Kesadaran Persatuan Umat
Ibadah haji mengajarkan bahwa umat Islam sesungguhnya adalah umat yang satu. Betapa tidak, jamaah haji berkumpulnya dari seluruh dunia untuk melakukan ibadah yang sama, tanpa mempedulikan lagi batasan negara bangsa, perbedaan suku, warna kulit, bahasa, bangsa, dsb. Hanya satu yang mengikat dan mempersatukan mereka yaitu akidah Islam. Fenomena itu sekaligus mengindikasikan bahwa umat Islam sesungguhnya bisa bersatu. Semua itu bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh mereka yang menunaikan haji maupun oleh mereka yang tidak sedang berhaji. Persatuan itu mestinya tidak hanya saat menunaikan ibadah haji saja. Persatuan umat Islam merupakan kewajiban mutlak kapan pun dan dalam segenap aspek kehidupan seperti ekonomi maupun politik. Untuk itu mutlak dibutuhkan pula ada satu negara (al-Khilafah) yang menaungi umat Islam di seluruh dunia. Dari sini seharusnya tumbuh kesadaran dan tekad untuk mewujudkan persatuan umat Islam yang hakiki di bawah satu kepemimpinan seorang imam atau Khalifah sebagaimana yang diamanatkan oleh Rasul saw.
Mewujudkan Makna Ukhuwah Yang Hakiki
Ibadah haji mengajarkan makna ukhuwah yang sebenarnya, bahwa sesungguhnya umat Islam itu bersaudara atas dasar iman. Penghayatan atas persaudaran ini mestinya melahirkan perhatian atas nasib seluruh kaum muslim, keberpihakan dan pembelaan atas mereka. Berbekal kesadaran itu, tentu kaum muslim terutama mereka yang telah berhaji tidak akan diam berpangku tangan saat darah kaum muslim ditumpahkan begitu saja di negeri mereka sendiri seperti di Afganistan, Pakistan, Irak, Suria dan negeri lainnya. Kesadaran itu akan mendorong kaum muslim tidak membiarkan penguasa yang menzalimi rakyatnya sendiri, tidak mau membela umat Islam bahkan menghalangi persatuan umat .
Menguatkan Ketundukan Kepada Syariah
Ibadah haji meningkatkan ketundukan pada syariah yang makin kuat. Sebab, ketundukan pada syariah adalah bukti dari haji yang mabrur. Haji mabrur adalah haji yang berpengaruh pada orang yang menunaikannya sehingga mendorongnya untuk menaati Allah SWT pada setiap apa yang Dia perintahkan dan menjauhkan diri dari setiap apa yang Dia larang. Ketundukan itu tentu bukan hanya dalam hal ibadah, moral dan urusan pribadi, melainkan wajib terwujud dalam segala aspek kehidupan yang luas, seperti dalam aspek politik dan ekonomi. Sistem demokrasi dan sistem Kapitalisme yang diharamkan Islam jelas harus dijauhi oleh mereka yang hajinya mabrur.
Membangkitkan Semangat Pengorbanan
Ibadah haji meningkatkan semangat pengorbanan. Sebab, mereka yang beribadah haji, telah dilatih untuk melakukan berbagai pengorbanan demi ketaatan kepada Allah SWT. Hal itu sudah semestinya membangkitkan semangat pengorbanan yang tinggi dalam perjuangan umat Islam, termasuk dalam perjuangan mengembalikan Khilafah dan persatuan umat Islam.
Muktamar Umat Islam
Ibadah haji merupakan momentum muktamar umat Islam untuk menyerukan berbagai solusi bagi umat Islam dan dunia. Mereka yang beribadah haji dari berbagai negeri Dunia Islam bisa saling bertukar informasi dan akhirnya akan dapat saling memahami, bahwa mereka sebenarnya masih hidup dalam penjajahan. Nilai perjuangan berlandaskan tauhid yang amat terasa dalam ibadah haji, tentu akan mendorong untuk berjuang membebaskan umat dari penjajahan dan mengantarkan umat menuju kehidupan yang penuh cahaya, dan itu sesungguhnya merupakan misi yang harus diemban oleh kaum muslim, apalagi mereka yang telah ditempa spirit perjuangan barlandaskan tauhid selama ibadah haji.
Momentum Penegakkan Syariat
Seiring dengan pelaksanaan ibadah haji saat ini, kaum muslim tidak boleh melupakan pesan sangat penting Rasul saw dalam khutbah saat Haji Wada’. Beliau berpesan:
« يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ »
Hai manusia sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).
Nabi saw berpesan untuk berpegang kapada kitabullah dan sunnah Beliau, yaitu berpegang kepada hukum-hukum syara’ yang termaktub di dalam keduanya. Rasul saw menjamin bahwa dengan itu niscaya umat ini tidak akan tersesat selama-lamanya.
Nasihat ini amat jelas menyebutkan bahwa bangkit atau terpuruknya nasib umat ditentukan oleh sejauhmana keterikatan mereka kepada hukum-hukum Allah. Terpuruknya nasib umat disebabkan karena mereka melepaskan diri dari hukum-hukum yang terkandung dalam al-Quran dan as-Sunnah.
Inilah makna sangat penting yang saat ini mendesak untuk kita wujudkan. Yaitu kembali berpegang kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, kembali berpegang kepada syariah dalam segenap aspek kehidupan. Hal itu hanya bisa kita wujudkan dengan jalan menerapkan syariah Islam secara total dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Hanya dengan itulah niscaya kita tidak akan tersesat, tidak akan terjerumus ke jurang bencana. Sekaligus hal itu adalah kunci kebangkitan umat Islam dan terwujudnya kerahmatan bagi seluruh alam. [Wallâh a'lam bi ash-shawâb]

Komentar Al Islam

Para tokoh lintas agama menilai, tidak ada perkara yang selesai di negeri ini. Di bidang penegakan hukum, pemberantasan korupsi, kerusakan lingkungan serta politisi yang ada tidak memiliki wawasan yang jauh ke depan. (Inilah.com, 18/10)
  1. Wajar sebab politik hanya dimaknai upaya mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan, bukan seperti politik Islam yang bermakna pemeliharaan urusan dan kemaslahatan rakyat
  2. Wajar, sebab akar masalahnya yaitu ideologi kapitalisme demokrasi. Selama sekulerisme kapitalisme demokrasi masih diterapkan, semua masalah tidak akan pernah selesai.
  3. Hanya pelaksanaan syariah Islam secara total dalam bingkai sistem Islam yaitu Khilafah sajalah yang akan bisa menuntaskan berbagai persoalan umat. Ingin selesai, terapkan syariah dan khilafah. Dijamin!!
Read More …

Berbeda dengan dulu yang amat kental nuansa politis dan perjuangannya, kini haji mengalami degradasi yang luar biasa. Yang menonjol dari haji kini hanyalah ibadah ritual belaka. Tak ada pengaruh nyata dalam perbaikan kondisi umat. Padahal dengan menengok kembali ke belakang, meski haji adalah ibadah ritual, ibadah ini dilakukan Baginda Rasulullah saw. sesungguhnya tidak terlepas dari aspek politik dan perjuangan beliau dalam menegakkan agama ini.
Untuk mengetahui sejauh mana makna politis dan perjuangan ibadah haji, khususnya yang tercermin dari ibadah haji yang dilakukan Rasulullah saw., Redaksi berkesempatan mewawancarai Ustadz Haji Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI). Berikut petikannya (Redaksi).

Dulu ibadah haji memiliki pengaruh bagi perjuangan umat Islam termasuk di negeri ini. Apa benar?
Ya, memang. Ibadah haji yang salah satu pusat aktivitasnya adalah tawaf dan sa’i di Masjid al-Haram Makkah memiliki pengaruh sangat besar dalam perjuangan di Indonesia. Bahkan Orientalis Belanda Snouck Hurgrounye, sebagaimana dikutip dalam buku Politik Islam Hindia Belanda, mengemukakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama Kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.”
Orang yang menunaikan ibadah haji saat itu adalah orang-orang yang benar-benar berjiwa pejuang. Bayangkan, untuk sampai ke sana naik kapal laut yang perlu waktu berbulan-bulan. Orangtua saya pernah menyampaikan, kalau tahallul (potong rambut) saat haji, sampai ke Indonesia sudah panjang lagi.
Imam Masjid al-Haram dulu umumnya merangkap sebagai wali Makkah yang dikenal juga Syarif Makkah. Sekadar menyebut, Abdul Qadir dari Kesultanan Banten tahun 1048 H mendapatkan gelar Sultan Abulmafakir dari Syarif Zaid, Syarif Makkah kala itu. Begitu juga Syarif Makkah pada tahun 1051 H menyematkan gelar sultan kepada Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram dengan gelar Sultan Maulana Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Begitu juga pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Islam Samudera Pasai Darussalam oleh utusan Syarif Makkah. Biasanya Imam tersebut memberikan gelar ‘sultan’ disertai dengan memberikan bingkisan yang dikenal dengan istilah “kiswah Ka’bah” sebagai cindera mata. Jadi, keberadaan kesultanan-kesultanan Islam yang kelak juga melahirkan banyak ulama dan pejuang tidak bisa dilepaskan dari Makkah. Momentum hubungan penganugerahan gelar sultan ini biasanya dengan pada momentum ibadah haji. Jelas, ibadah haji dulu sarat dengan nuansa perjuangan Islam.

Sekarang apakah pengaruh itu masih ada dan nyata?
Pengaruh tersebut masih ada sekalipun sangat berbeda dibandingkan dengan dulu. Bahkan saat saya berkesempatan menunaikan haji ada pemandangan yang membuat hati saya tersayat. Berangkat mau naik haji, tapi yang dilakukan di sana lebih merupakan piknik, belanja atau numpang tidur saja. Penghayatan terhadap wukuf, mabit di masy’aril haram (Muzdalifah), melempar jamarat, dll hampa dari sebuah makna perjuangan. Tidak aneh bila sepulangnya ke Tanah Air, pengaruh haji tersebut nyaris tak berbekas.

Sepertinya saat ini ibadah haji telah menjadi sebatas ritual semata?
Memang benar, saat sekarang umumnya pengaruh tersebut sebatas ritual belaka; bahkan sekadar untuk status sosial, simbol. Coba perhatikan, banyak terjadi seseorang baru menunaikan haji pada saat momentum mau ikut mencalonkan dalam Pemilu atau Pilkada. Lalu ketika mau mendulang suara gelar ‘H’ atau ‘Hj’ dipakai kemana-mana. Padahal perilakunya jauh dari nilai-nilai haji. Hal ini ditunjukkan juga dengan ungkapan, “Saya juga sudah haji lho,” ketika dinyatakan bahwa dia anti perjuangan Islam. Yang harus dicegah adalah ibadah haji diubah menjadi ‘wisata haji’. Ketika bimbingan haji pun yang banyak diajarkan kebanyakan hafalan doa-doa dan sedikit praktik manasik. Mestinya yang dominan adalah makna ibadah haji itu sendiri sehingga sesampainya di sana benar-benar untuk menunaikan haji, bukan yang lain.

Apa yang menyebabkan terjadinya degradasi pengaruh ibadah haji seperti itu?
Saya lihat ada beberapa faktor. Pertama: pemahaman. Tidak jarang jamaah haji tidak paham tentang hakikat dan makna haji. Haji dipandang sebatas gerakan dan ritual belaka. Kadang ada yang sekadar berfoto-foto. Kedua: ada paham sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Haji didudukkan sebagai ibadah ritual sehingga tidak boleh sekaligus dijadikan sebagai momentum konferensi internasional umat Islam. Bayangkan, kalau dalam khuthbah saat wukuf atau saat ‘Idul Adha disampaikan persoalan umat Islam kekinian, niscaya dampaknya akan dahsyat. Sayang, saat ini tidak terjadi.

Apakah ini di antara akibat sekularisme?
Saya pikir ada juga pengaruh itu. Bahkan saya khawatir gejala yang ada mengarah pada kapitalisasi haji. Ada kabar bahwa di suatu daerah ada jatah haji bagi anggota DPRD. Namun, sebenarnya mereka tidak berangkat. Akhirnya, quota tersebut mereka jual kepada orang yang ingin segera naik haji.

Bukankah sebagai ibadah, haji itu memang harus dimaknai secara ruhiah saja?
Kalau ruhiah yang dimaksud adalah idrak shilah billah (kesadaran akan hubungan dengan Allah SWT) benar. Namun, bila ruhiah dimaknai sebagai spiritual tidak tepat. Sebab, banyak sekali aspek-aspek lain yang terkandung dalam haji. Sebagai contoh, haji adalah prosesi penyatuan umat Islam sedunia. Semua warna kulit ada. Berbagai bahasa menyatu. Tidak ada aktivitas apa pun yang dapat menyatukan jutaan orang dari berbagai dunia, di tempat yang sama, pada saat yang sama dan menghadap Rabb yang sama, selain ibadah haji. Bukankah ini aspek persatuan? Aspek politik? Sayang, prosesi ibadah haji saat ini adalah ibadah haji tanpa pemimpin. Yang ada amir hajj masing-masing negara!
Simaklah khutbah Nabi saw. dalam Haji Wada’. Di sana bukan sekadar aspek ritual. Dalam khutbah tersebut beliau menyampaikan: ‘darah (jiwa) dan harta benda kalian adalah suci bagi kalian’ (jinayat); merobohkan pilar ekonomi riba dengan menyatakan ‘semua macam riba terlarang’ (sistem ekonomi/nizham iqtishadiy); berbicara tentang aturan kehidupan suami-istri (ijtima’i); menyampaikan tentang kepemilikan harta, dsb.

Lalu bolehkah ibadah haji diisi dengan makna selain ruhiah seperti dari aspek politik dan perjuangan?
Justru aspek politik dan perjuangan itu dasarnya harus ruhiah. Makna ibadah haji harus diimplementasikan dalam bidang politik dan menjadi ruh perjuangan. Seluruh prosesi ibadah haji sarat dengan perjuangan! Siapapun yang pernah menunaikan haji dengan sebenar-benarnya dan menghayati sepenuh hatinya akan menemukan bahwa haji adalah perjuangan. Ingat juga, ayat bahwa agama ini telah disempurnakan turun saat Haji Wada’. Pada saat Perjanjian Hudaibiyah momentumnya adalah umrah. Ketika futuh Makkah beliau mengumpulkan masyarakat di sekitar Ka’bah dan Bilal mengumandangkan azan kemenangan dari atas Ka’bah. Rasulullah saw. mengumandangkan perjuangan dalam haji ini. Lihatlah di tempat melempar jumrah ada yang namanya ‘Aqabah. Itu adalah tempat Nabi saw. melakukan Bai’atul ‘Aqabah dari para pemimpin Madinah yang mendukung dakwah Islam. Bahkan semasa masih di Makkah, Rasulullah saw. mendatangi para pemimpin kabilah untuk mendakwahkan Islam pada saat musim haji.

Apakah itu tidak akan mengotori ibadah haji itu sendiri?
Kalau memang mengotori ibadah pasti Rasulullah saw. tidak akan melakukannya.

Seperti apa memaknai ibadah haji dari aspek politik dan perjuangan itu?
Pertama: ibadah haji mengajarkan bahwa manusia itu sama. Pembedanya hanyalah ketakwaan. Kedua: ibadah haji meniscayakan persatuan umat Islam. Seluruh umat Islam sedunia bersatu saat ibadah haji. Mestinya persatuan tersebut bukan hanya sekadar saat ibadah haji, tetapi bersatu dalam segenap aspek kehidupan. Ketiga: menjadikan momentum ibadah haji sebagai konferensi internasional umat Islam (muktamar umat Islam) yang menyerukan berbagai solusi bagi dunia. Ini adalah bukti nyata persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) menembus batas negara-bangsa (nation state). Persaudaraan Islam adalah persaudaraan global tanpa sekat. Keempat: butir lima tidak mungkin dilakukan kalau umat Islam tidak benar-benar bersatu dalam satu kepemimpinan. Jadi, perlu semakin mengokohkan perjuangan menegakkan Khilafah sebagai wujud nyata dari kesatuan kepemimpinan tersebut. Lupakan semua atribut kedaerahan atau kebangsaan, kibarkan satu panji Islam. Kelima: jadikan ibadah haji sebagai perjalanan napak tilas perjuangan Rasulullah saw. Keenam: hayati setiap proses ibadah haji, lakukakan sepenuh hati niscaya akan terasa sesuatu yang luar biasa; nilai perjuangan yang berlandaskan tauhid. Lalu, seusai menunaikan ibadah haji, implementasikan nilai haji tersebut. Salah satu hal yang sangat penting adalah mewujudkan persatuan umat Islam sedunia dalam Khilafah. Jadi, sepulang ibadah haji, jadilah pejuang Islam. Last but not least, berdoalah pada saat ijabah di ‘Arafah, Multazam, Maqam Ibrahim, dan tempat/waktu mustajab lainnya bukan sekadar untuk kebaikan sendiri melainkan juga untuk kebaikan umat dan kemenangan dakwah Islam.

Apa yang harus dilakukan untuk membuat ibadah haji kembali seperti dulu?
Banyak faktor yang perlu diperbaiki. Secara individual, perlu ada penajaman pemahaman tentang makna haji itu sendiri. Ibadah haji adalah ibadah fisik yang penuh dengan perjuangan. Secara kelompok, perlu secara masif memberikan pencerahan bahwa ibadah haji itu untuk menapak tilas perjuangan Rasulullah saw. Negara harus memiliki visi dan misi untuk menjadikan ibadah haji ini sebagai momentum dan muktamar internasional tahunan umat Islam yang dipimpin oleh seorang pemimpin kaum Muslim. Di sini penting adanya Khilafah. Sebab, tanpa Khalifah sebagai pemimpin hal tersebut tidak akan dapat terlaksana. Kalaupun dapat dijalankan tidak akan lebih dari sekadar simbol saja. []
Read More …

Ibadah haji kini sudah kehilangan makna politisnya bagi umat. Tak seperti dulu, katakanlah di zaman penjajahan Belanda saat Khilafah masih ada. Para jamaah haji di jaman penjajahan betul-betul mendapat pencerahan politik berkat ibadah hajinya di Mekkah. Mereka yang pulang haji menjadi makin berani melawan pemerintahan kafir Belanda. Inilah yang menyebabkan Belanda mengkhawatirkan dampak haji secara politis. Karena itu, tahun 1908 Belanda pernah menegaskan bahwa melarang umat Islam berhaji akan lebih baik daripada terpaksa harus menembak mati mereka. (H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, hlm.22).
Kini, ibadah haji mungkin sudah kosong dari makna politis itu. Ibadah haji saat ini lebih dipahami sebagai ibadah ritual belaka, plus rekreasi dan wisata belanja di Tanah Suci. Padahal ibadah haji sebenarnya mengandung makna politis yang kuat. Sejak awal Islam, dimensi politik dalam ibadah haji sudah terlihat sangat kental. Sebagai contoh, dalam Haji Wada’ pada tahun ke-10 Hijriyah, Nabi saw. menyampaikan khutbah, antara lain, “Ketahuilah, sembahlah Rabb kalian, dirikanlah shalat lima waktu kalian, laksanakanlah puasa Ramadhan kalian, bayarkanlah zakat harta kalian dengan suka rela, tunaikanlah haji di rumah Rabb kalian, dan taatilah waliyul amri kalian, niscaya kalian masuk surga Rabb kalian.” (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 359).
Perkataan Nabi saw.,”Taatilah waliyul amri kalian (athii’u ulati amrikum),” secara jelas merupakan pesan politik yang strategis, karena mengingatkan umat Islam untuk tetap patuh kepada ulil amri (penguasa) (lihat QS an-Nisa‘ [4]: 59). Yang menarik, pesan politik ini merupakan satu rangkaian setelah Nabi saw. memberi pesan tentang shalat, zakat dan haji. Jadi, ada makna politis yang sangat kuat dalam ibadah haji.
Makna politis ibadah haji sesungguhnya tak hanya itu. Masih banyak makna-makna politis lainnya. Seluruh makna politis ibadah haji ini tercakup dalam apa yang disebut “hikmah haji”, yaitu manfaat-manfaat yang dapat dipersaksikan oleh jamaah haji saat mereka menunaikan haji (QS al-Hajj [22]: 28). Ayat ini menunjukkan, dalam ibadah haji kaum Muslimin akan mendapatkan berbagai manfaat yang sangat strategis dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam aspek politik (Ali bin Nayif As-Syahud, Al-Khulashah fi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah, hlm.2).

Beberapa Makna Politis Ibadah Haji
Pertama: ibadah haji membangkitkan kesadaran akan persatuan umat. Mereka yang beribadah haji akan merasakan, bahwa umat Islam sesungguhnya adalah umat yang satu. Betapa tidak, jamaah haji akan menyaksikan berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan ibadah yang sama, tanpa mempedulikan lagi batasan nation state, perbedaan suku, warna kulit dan bangsa. Semua itu semestinya mengingatkan jamaah haji akan firman Allah SWT:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا
Berpegangnlah kalian dengan tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103).

Dengan berkumpul dengan sesama saudara Muslim dari seluruh pelosok dunia, jamaah haji akan sadar, bahwa yang mempersatukan mereka hanya satu faktor saja, yaitu agama Allah (Islam). Tak ada faktor pemersatu lainnya, apakah itu suku, warna kulit, bangsa ataupun negara bangsa (nation state).
Kedua: ibadah haji membangkitkan perjuangan menentang penjajahan kafir dan segenap anteknya. Mereka yang beribadah haji dari berbagai negeri Dunia Islam akan saling bertukar informasi dan akhirnya akan dapat saling memahami, bahwa mereka sebenarnya masih hidup dalam penjajahan. Jika dulu penjajahan Belanda berbentuk penjajahan militer, kini bentuknya adalah penjajahan modern, yaitu dominasi Kapitalisme global di segala bidang yang mencengkeram dan menghisap Dunia Islam. Jika dulu pada zaman Belanda penguasa mereka orang-orang kafir, kini setelah merdeka penguasa mereka memang orang-orang Muslim, namun tetap menjadi antek-antek kafir penjajah. Sebab, penguasa mereka telah nyata-nyata menerapkan ideologi penjajah (Kapitalisme-sekularisme) dan melayani kepentingan penjajah. Bercokolnya korporasi asing di Indonesia, seperti PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara, dapat menjadi sekadar contoh bagaimana penguasa saat ini hanyalah pelayan kepentingan ekonomi-politik pihak asing. Semua bentuk dominasi kaum kafir atas umat Islam ini jelas tidak dapat diterima, karena telah dilarang Allah SWT (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 141).
Maka dari itu, jamaah haji sudah seharusnya insyaf sehingga ketika pulang makin semangat berjuang untuk menentang penjajahan kafir dan segenap anteknya di dalam negeri sendiri. Hal itu sebagaimana kakek-nenek kita dulu yang pulang dari Mekkah, yang makin berani dan militan menentang Belanda sepulang dari ibadah haji.
Ketiga: ibadah haji meningkatkan ketundukan pada syariah yang makin kuat. Sebab, ketundukan pada syariah adalah bukti dari haji yang mabrur, yang menjadi harapan tertinggi yang pasti diinginkan oleh setiap Muslim yang beribadah haji. Rasulullah saw.:
وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلاَّ الْجَنَّةُ
Haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga (HR al-Bukhari).

Haji mabrur adalah haji yang berpengaruh pada orang yang menunaikannya sehingga dia akan membersihkan jiwanya dari menaati setan, yang mendorongnya untuk menaati Allah SWT pada setiap apa yang Dia perintahkan dan menjauhkan diri dari setiap apa yang Dia larang dan Dia cegah (Faridhah al-Hajj: Dalalat wa ‘Ibar, Al-Waie [Arab], Edisi No. 287-288, Dzulhijjah-Muharram 1432 H, Nopember- Desember, 2010, hlm. 6).
Maka dari itu, jamaah haji semestinya semakin tunduk pada syariah dalam setiap tindak tanduknya. Tentu ketundukan ini tak hanya dalam persoalan ibadah yang bersifat pribadi, seperti shalat, zakat, dan sebagainya; melainkan sudah seharusnya terwujud pula dalam segala aspek kehidupan yang luas, seperti dalam aspek politik dan ekonomi. Sistem demokrasi dan sistem Kapitalisme yang diharamkan Islam jelas harus dijauhi oleh mereka yang hajinya mabrur.
Dalam aspek politik, seorang haji yang mabrur tentu tak akan mau lagi menerima sistem demokrasi kufur yang dipaksakan Barat atas Dunia Islam. Sebab, dengan konsep “kedaulatan rakyat”, demokrasi telah merampas hak menetapkan hukum yang seharusnya menjadi milik Allah semata (lihat QS al-An’am [6]: 57). Hak ini lalu diberikan kepada manusia yang serba lemah dan terbatas. Dalam aspek ekonomi, seorang haji mabrur juga akan menentang sistem ekonomi Kapitalisme dalam wujud neoliberalisme saat ini. Sebab, sistem ini terbukti hanya menguntungkan kaum penjajah kafir (khususnya AS) serta antek-anteknya, yaitu kaum pemodal dan birokrat. Sebaliknya, sistem ini telah nyata menimbulkan kemiskinan dan kesengsaraan pada rakyat banyak.
Keempat: ibadah haji meningkatkan kesadaran akan wajibnya mendirikan Khilafah. Betapa tidak, sebab jamaah haji akan melihat bahwa umat Islam yang berasal dari berbagai negara di Dunia Islam telah berhasil dipecah-belah oleh kafir penjajah menjadi lebih dari 50 negara bangsa (nation state). Padahal mereka adalah umat yang satu yang seharusnya hidup dalam negara yang satu, yaitu negara Khilafah. Nabi saw. sendiri telah menegaskan hal ini dalam Piagam Madinah (Lihat: Shafiyurrahman Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 135; Abul Hasan Ali An-Nadwi, Ma Dza Khasir al-‘Alam bi-[I]nhithath Al-Muslimin, hlm. 176).
Karakter umat yang satu inilah yang menjadi dasar dari adanya negara yang satu (dawlah wahidah), yaitu satu negara Khilafah untuk umat Islam di seluruh dunia. Sebab, tanpa Khilafah, yakni ketika umat masih hidup dalam negara-bangsa hasil rekayasa penjajah seperti saat ini, karakter umat yang satu itu jelas tak mungkin terwujud. Karena itu, Khilafah sebagai institusi pemersatu umat menjadi wajib. Demikian pula perjuangan untuk mendirikan kembali Khilafah setelah kehancurannya tahun 1924, juga wajib.
Dengan demikian, jamaah haji yang dengan matanya sendiri menyaksikan jutaan Muslim saat beribadah haji sudah seharusnya memahami makna politis wajibnya Khilafah. Sebab, hanya dengan Khilafah sajalah, jutaan bahkan miliaran umat Islam seluruh dunia, mulai dari Maroko hingga Merauke, dapat dipersatukan dalam satu negara.
Kelima: ibadah haji meningkatkan semangat pengorbanan. Sebab, mereka yang beribadah haji, telah dilatih untuk melakukan berbagai pengorbanan demi ketaatan kepada Allah SWT. Mereka harus menyisihkan ongkos yang tak sedikit untuk berhaji, harus meninggalkan keluarga dan negerinya dalam jangka waktu yang lama, harus meninggalkan pekerjaannya, harus menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, dan melaksanakan berbagai manasik haji yang juga membuat badan kelelahan.
Semua itu jelas harus menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang berhaji. Sudah semestinya semangat pengorbanan mereka semakin meningkat sepulang dari haji. Semakin banyak berkorban memang akan semakin berat dan berisiko. Namun, di balik itu, semakin banyak berkorban berarti semakin banyak pahala-Nya di sisi Allah. Sebuah kaidah fikih menyebutkan:
مَا كانَ أكْثَرَ فِعْلاً كانَ أكْثَرَ فَضْلاً
Apa saja yang lebih banyak susah payahnya akan lebih banyak pahalanya (Muhammad Shidqi Al-Burnu, Mawsu’ah al-Qawa’id al-Fiqhiyah, IX/71).

Para ulama ushul menyebutkan bahwa kaidah fikih tersebut lahir dari sebuah sabda Rasulullah saw. kepada Aisyah ra.:
أَجْرُكِ عَلىَ قَدْرِ نَصَبِكِ
Pahalamu sesuai dengan susah-payahmu (HR Muslim) (Muhammad Shidqi Al-Burnu, Mawsu’ah al-Qawa’id al-Fiqhiyah, ibid.).

Karena itu, jamaah haji yang sudah dilatih berkorban dalam ibadah haji sudah semestinya semakin tinggi pengorbanannya dalam perjuangan umat Islam, termasuk dalam perjuangan mengembalikan Khilafah dan persatuan umat Islam.

Mengembalikan Makna Politis Haji
Sayang, banyak faktor yang melemahkan makna-makna politis yang telah dijelaskan tersebut. Faktor-faktor penyebabnya antara lain: Pertama, terjadinya sekularisasi Dunia Islam. Proses ini ternyata telah membuat umat Islam memahami Islam secara parsial, tidak utuh. Islam hanya dipahami sebagai agama ritual yang bersifat pribadi. Islam tidak dipahami sebagai ideologi atau pandangan hidup yang harus terwujud dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Akibatnya, jamaah haji yang telah berhaji berkali-kali pun gagal menangkap makna politis wajibnya Khilafah bagi umat Islam. Mereka tampaknya sudah puas dengan negara sekular yang ada, yang memarjinalkan Islam hanya di masjid saja, yang menjauhkan Islam dari kehidupan politik dan kehidupan bernegara. Tentu ini sangat disayangkan. Sudah waktunya umat Islam menyadari bahwa sekularisme yang diajarkan kafir penjajah telah sangat merusak pemahaman mereka akan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Kedua, bercokolnya nation-state dan nasionalisme di Dunia Islam. Fakta ini membuat jamaah haji sulit menangkap makna politis persatuan umat Islam di seluruh Dunia. Konsep nation-state dan nasionalisme yang lahir dari latar belakang sejarah Kristen Eropa, telah memutus total hubungan ideologis antar berbagai bangsa yang sesungguhnya masih sesama umat Islam. Paham nasionalisme yang kufur telah membuat umat Islam bangsa Indonesia merasa berbeda dengan umat Islam bangsa Arab, bangsa Turki, bangsa India, dan sebagainya. Padahal mereka seharusnya sadar bahwa mereka semuanya adalah umat Islam yang satu, walaupun berbeda-beda kebangsaannya. Ikatan kebangsaan yang telah merobek-robek persatuan umat Islam sudah waktunya dicampakkan dan diganti dengan ikatan tali agama Allah (QS Ali Imran [3]: 103) yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan.
Ketiga, posisi Arab Saudi sebagai antek Amerika. Kondisi ini membuat umat Islam kurang bisa menangkap makna politis haji yang strategis, yaitu kewajiban menentang penjajahan kafir dan segenap anteknya. Sebab, mereka akan melihat, bahwa penguasa Saudi yang mengklaim sebagai Khadimul Haramain (Pelayan Dua Tempat Suci) ternyata toh menjalin hubungan akrab dengan Amerika. Kepekaan umat terhadap penjajahan Barat tidak begitu tajam. Padahal semestinya umat sadar, bahwa Amerika adalah musuh umat Islam, bahkan musuh Islam itu sendirinya. Mereka tak hanya membunuh umat Islam, seperti terjadi di Afganistan dan Irak, tetapi juga hendak mengubah ajaran Islam itu sendiri, misalnya ingin menghapuskan ajaran jihad fi sabilillah. Semestinya umat sadar, bahwa penguasa Dunia Islam tiada lain adalah antek-antek kafir penjajah yang sudah saatnya disingkirkan, lalu diganti dengan penguasa muslim yang ikhlas yang akan menerapkan Syariah Islam semata dalam kehidupan bernegara.
Inilah sekilas faktor-faktor yang membuat umat Islam gagal menangkap makna-makna politis ibadah haji. Faktor-faktor ini akan terus ada selama umat Islam masih percaya dan menerapkan sekularisme dan nasionalisme di Dunia Islam, atau selama umat Islam tidak menganggap Amerika dan negara-negara Barat lainnya sebagai penjajah.
Namun, insya Allah semua faktor itu akan hilang tuntas, dengan berdirinya Khilafah. Karena Khilafah itulah yang nanti akan menghancurkan sekularisme dan nasionalisme di Dunia Islam. Khilafah itu pulalah yang akan mengumumkan jihad fi sabilillah untuk melawan negara-negara kafir penjajah seperti Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Wallahu a’lam. [KH. M. Shiddiq Al-Jawi]
Read More …

Ibadah Haji: Persatuan Umat dan Urgensi Daulah Khilafah
Assalamualaikum wr. wb.
اَللهُ أَكْبَرُ x 9 ا َللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
إنَّ الحَْمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ باللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وأَشْهَدَ أَنَّ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ،
وَ قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَآيُّهَا النَّاسُ إنَّا خَلقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا ِ
أمَّا بَعْدُ
فَيَا أيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإيَّايَ بِتَقْوى اللهِ فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Alhamdulillah, hari ini kita merayakan Hari Raya Idul Adha yang penuh dengan kegembiraan. Kata id itu sendiri memang menunjukkan makna kegembiraan, karena berasal dari kata ‘aud yang artinya kembali atau berulang. Jadi, setiap id artinya ialah ya’udu as-surur, yakni kembali atau berulangnya kegembiraan. (Imam Syaukani, Nayl al-Authar, hlm. 680).
Kegembiraan seperti ini pula kiranya yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tengah melaksanakan serangkaian manasik haji di Tanah Suci.
Namun demikian, kegembiraan kita ini hendaknya jangan sampai berlebihan atau melampaui batas, sehingga kita melupakan nasib saudara-saudara kita umat Islam di seluruh dunia, yang sampai detik ini masih terpuruk di segala bidang. Keterpurukan ini adalah akibat dominasi Kapitalisme global pimpinan Amerika Serikat, sang pemimpin kafir penjajah, beserta antek-antek mereka. Keterpurukan ini juga akibat tiadanya pelindung hakiki bagi umat Islam, yaitu Imam atau Khalifah. Betapa benar sabda Rasulullah saw.:
إنَّمَا اْلإمَامُ جُنَّةٌ يُقاتَلُ منْ وَرَائِهِ وَيُتَّقى بهِ
Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu bagaikan perisai; tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya (HR Muslim).
Rasa gembira itu hendaknya juga jangan sampai membuat kita gagal menangkap pelajaran (ibrah) yang penting dari ibadah haji; ibadah yang menjadi rukun Islam kelima yang diwajibkan Allah SWT atas kita semua, yang pada hari-hari ini sudah dan sedang dilaksanakan oleh para jamaah haji di Makkah dan sekitarnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Dalam kesempatan yang mulia ini, ada baiknya kita meresapi berbagai pelajaran (ibrah) penting dari ibadah haji itu. Pelajaran ini tak hanya penting untuk mereka yang sedang berhaji, melainkan juga bagi seluruh umat Islam di mana pun berada.
Berbagai pelajaran ibadah haji ini sesungguhnya tercakup dalam apa yang disebut “hikmah haji“, yaitu manfaat-manfaat yang dapat dipersaksikan oleh para jamaah haji, sebagaimana firman Allah SWT:
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
agar mereka (jamaah haji) menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS al-Hajj [22] : 28).
Ayat ini menunjukkan, dalam ibadah haji kaum Muslim akan mendapatkan berbagai manfaat yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan (Ali bin Nayif Asy-Syahud, Al-Khulashah fi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah, hlm.2).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Di antara pelajaran terpenting dari ibadah haji ini adalah pesan persatuan umat (wahdah al-ummah). Pesan ini tampak jelas sekali. Jamaah haji akan dapat menyaksikan berkumpulnya umat Islam dari seluruh pelosok dunia untuk melakukan ibadah yang sama, zikir yang sama, di tempat yang sama dan dengan busana ihram yang sama; tanpa mempedulikan lagi batasan negara bangsa (nation state), perbedaan suku, warna kulit dan bangsa.
Semua itu semestinya mengingatkan umat Islam akan karakter mereka sebagai umat yang satu (ummat[an] wahidah), sebagaimana pernah ditegaskan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. dalam Piagam Madinah:
هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قُرَيْشٍ وَيَثْرِبٍ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَلَحِقَ بِهِمْ، وَجَاهَدَ مَعَهُمْ إِنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُوْنِ النَّاسِ‏.
Ini adalah piagam perjanjian dari Muhammad saw. antara orang-orang Muslim dan Mukmin dari Quraisy dan Yatsrib serta orang-orang yang menyusul mereka, bergabung dengan mereka dan berjihad dengan mereka. Sesungguhnya mereka adalah satu umat (ummat[an] wahidah), berbeda dengan manusia lainnya (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 153; Abul Hasan Ali An-Nadwi, Ma Dza Khasir al-‘Alam bi-[I]nhithath al-Muslimin, hlm. 176).
Perwujudan karakter umat yang satu itu tiada lain karena adanya tali pengikat di antara mereka, yaitu agama Islam, sebagaimana firman Allah SWT:
وَاعْتَصْمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعٌا وَلا تَفَرَّقُوْا
Berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103).
Berkumpulnya jamaah haji dengan sesama Muslim dari seluruh pelosok dunia akan menyadarkan mereka, bahwa yang mempersatukan umat Islam hanya satu faktor saja, tidak lebih, yaitu agama Allah (Islam). Tak ada faktor pemersatu lainnya; apakah itu suku, warna kulit, bangsa ataupun negara bangsa (nation state).
Faktor suku, warna kulit dan kebangsaan sesungguhnya bukanlah faktor pemersatu. Semua itu tidak layak menjadi faktor pemersatu. Semua itu sekadar qadha‘ yang memang bukan dalam kuasa dan hak pilih seorang anak manusia. Tak ada manusia yang memilih menjadi suku Jawa, atau memilih berkulit hitam, atau memilih menjadi bangsa Indonesia. Semua itu merupakan qadha` yang terkait dengan penciptaan manusia, tanpa ada hak memilih bagi manusia.
Jadi faktor kesukuan, warna kulit dan kebangsaan itu bukanlah pemersatu; juga bukan pula sebagai dasar pembentukan sebuah negara, melainkan qadha` Allah dalam penciptaan yang menjadi sarana untuk saling mengenal. Allah SWT berfirman:
يَآيُّهَا النَّاسُ إنَّا خَلقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal (QS al Hujurat [49]: 13).
Memang, dalam kenyataannya umat Islam itu bermacam-macam, terdiri dari beragam suku-bangsa. Ada bangsa Melayu, bangsa Pakistan, bangsa Mesir, bangsa Afrika, bangsa Arab, dan seterusnya. Namun demikian, walaupun berbeda-beda bangsa, umat Islam tetap satu. Walaupun berbeda-beda bangsa, umat Islam seluruh dunia adalah ibarat satu tubuh, sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi saw.:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فَِي تَواَدِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُم عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembut adalah laksana satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuh lainnya akan turut tak bisa tidur dan merasa demam (HR Muslim).
Jelaslah, berdasarkan uraian di atas, terdapat pelajaran penting sekali dari ibadah haji, yaitu pesan persatuan umat Islam. Umat Islam dari seluruh pelosok dunia seharusnya menjadi umat yang satu. Mereka diikat oleh faktor pemersatu hakiki berupa tali agama Allah semata, bukan diikat oleh faktor lainnya seperti warna kulit, suku, bangsa, atau negara bangsa.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Persatuan umat Islam dan karakter umat yang satu itulah yang menjadi dasar dari adanya negara yang satu (dawlah wahidah), yaitu satu negara Khilafah untuk umat Islam di seluruh dunia.
Maka dari itu, jika kebangsaan menjadi dasar bagi negara-bangsa, maka bagi umat Islam, karakter umat yang satu menjadi dasar bagi negara Khilafah yang satu. Tidak boleh ada lebih dari satu negara Khilafah di seluruh dunia. Khilafah yang satu itu sajalah yang akan menaungi seluruh umat Islam seluruh dunia, mulai dari Maroko hingga Merauke, dalam satu negara. Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad saw.:
إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا
Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).
Berdasarkan dalil-dalil seperti itulah, para ulama mazhab yang empat dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali sepakat untuk melarang adanya dua orang khalifah di seluruh dunia pada waktu yang sama. Syaikh Abdurrahman Al-Jazairi dalam kitabnya, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib al-Arba’ah (Fiqih Menurut Empat Mazhab), menegaskan:
وَعَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فِي جَمِيْعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ
(Imam mazhab yang empat sepakat) bahwa tidak boleh kaum Muslim pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya bersepakat maupun bermusuhan (Abdurrahman al-Jazairi, Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, V/416).
Iman an-Nawawi juga menegaskan:
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُأَنْ يعقِدَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَي عَصْرٍ وَاحِدٍ سَوَاءٌ اِتَّسَعَتْ دَار الإِسْلاَمِ أَمْ لاَ
Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh mengangkat dua orang Khalifah pada waktu yang sama, baik Darul Islam luas maupun tidak (Imam an-Nawawi, Syarh Muslim, XII/232).
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah.
Pelajaran penting lainnya dari ibadah haji adalah kesadaran akan urgensi negara Khilafah (ahammiyah dawlah al-Khilafah). Betapa tidak, jamaah haji akan menyaksikan, bahwa Muslim yang datang di Tanah Suci untuk berhaji bermacam-macam asal negerinya, bermacam-macam asal benuanya; bukan hanya dari Jazirah Arab yang memang menjadi tanah kelahiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Ada yang berasal dari Sudan, Mesir, Libia; dari benua Afrika. Ada yang berasal dari Uzbelistan, Tajikistan dan Turkmenistan; dari Asia Tengah). Ada yang datang Cina, Eropa, dan seterusnya.
Bagaimana fenomena mengagumkan ini dapat dipahami? Bukankah dulu agama Islam lahir di Jazirah Arab? Bagaimana Islam lalu dapat tersebar sedemikian luas? Sesungguhnya, jawaban untuk itu hanya satu saja. Adanya umat Islam yang berada di berbagai negeri di berbagai pelosok bumi terjadi karena adanya negara Khilafah yang melakukan futuhat (penaklukan) dan aktivitas dakwah ke seluruh dunia.
Bahkan termasuk Walisongo yang menyebarkan dakwah di Tanah Jawa pada sekitar abad 14 atau 15 M yang lalu, juga tak lepas dari jasa Khilafah. Khilafah Utsmaniyah di Turki-lah yang dulu berjasa besar mengirim para dai yang kelak disebut Walisongo itu untuk menyebarkan dakwah Islam di Tanah Jawa.
Maka dari itu, fenomena jamaah haji yang berasal dari berbagai negeri di segala penjuru dunia itu semestinya menyadarkan kita akan urgensi Daulah Khilafah. Sebab, salah satu urgensi Khilafah adalah mengemban risalah Islam ke seluruh dunia, dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Tanpa adanya negara Khilafah yang melakukan aktivitas dakwah dan jihad, niscaya kita tak akan menyaksikan fenomena hebat dalam ibadah haji, yakni adanya kaum Muslim yang asal-usulnya bukan hanya dari Jazirah Arab sebagai tempat lahirnya Islam, melainkan berasal dari segala negeri di segala benua dunia.
Jelaslah, negara Khilafah sangat urgen karena menjadi pelaksana aktivitas dakwah dan jihad itu untuk menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Aktivitas Khilafah ini sejalan dengan karakter agama Islam sebagai risalah universal untuk semua manusia. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَةً لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَلَكِنْ أَكْثَرُ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Saba` [34]: 28).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Selain urgen untuk misi dakwah dan jihad, Khilafah juga sangat urgen demi penerapan syariah Islam. Boleh dikatakan, semua kewajiban syariah-seperti penegakan hudud, jinayat, pemungutan dan pendistribusian zakat, serta pelaksanaan berbagai sistem kehidupan-bertumpu dan bergantung pada satu poros, yaitu keberadaan negara Khilafah. Artinya, tanpa adanya Khilafah, pelaksanaan berbagai kewajiban syariah itu tak akan mungkin terlaksana secara keseluruhan.
Ibadah haji, tanpa negara Khilafah, memang dapat terlaksana. Namun, tetap pelaksanaaanya menjadi kurang sempurna karena masih banyak mendapat hambatan dan kendala tanpa Khilafah. Misalnya, urusan paspor haji. Dengan Khilafah yang akan menghapuskan Negara-bangsa di Dunia Islam, paspor menjadi tidak relevan dan tak dibutuhkan lagi. Sebab, orang Indonesia, Mesir, atau Sudan, tatkala pergi ke Makkah, tak akan dianggap lagi pergi ke luar negeri, melainkan masih perjalanan dalam negeri. Paling banter perjalanan antarpropinsi. Dengan demikian, pengelolaan administrasi haji akan lebih sederhana dan menghemat banyak ongkos. Mereka yang pernah naik haji, tentu sangat memahami kerepotan administrasi yang sebenarnya tidak perlu ini.
Maka dari itu, Khilafah jelas sangat urgen demi pelaksanaan berbagai kewajiban syariah. Khilafah menjadi mutlak adanya. Hal ini sesuai kaidah syariah:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَواَجِبٌ
Selama suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Demikianlah sekilas pelajaran terpenting dari ibadah haji yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini. Kesimpulannya, paling tidak ada dua pelajaran terpenting. Pertama: pesan persatuan umat dalam Khilafah (wahdah al-ummah fi dawlah al-Khilafah al-wahidah). Kedua: urgensi negara Khilafah (ahammiyah dawlah al-Khilafah) untuk dakwah dan penerapan syariah. Kedua pelajaran penting itu tak dapat dilepaskan dari keberadaan negara Khilafah.
Mudah-mudahan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang kita idam-idamkan akan berdiri sebentar lagi. Tanda-tanda kehadirannya mulai tampak dengan terang. Gelombang perubahan politik yang dahsyat di Timur Tengah merupakan salah satu tanda akan datangnya negara baru itu. Para thaghut mulai berjatuhan dan bergelimpangan. Yang masih bertahan insya Allah akan segera jatuh menyusul teman-temannya.
Semoga kita semua nanti masih sempat mengalami indahnya hidup di bawah naungan Khilafah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.
Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ اَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَ نُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَ جَلاَءَ اَحْزَانِنَا، وَ ذِهَابَ هُمُوْمِنَا وَ غُمُوْمِنَا، وَ قَائِدَنَا وَ سَائِقَنَا اِلَى رِضْوَانِكَ، اِلَى رِضْوَانِكَ وَ جَنَّاتِكَ جَنَّاتٍ نَعِيْمٍ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ شَفِيْعَنَا، وَ حُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا،
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا من النَّارَ وَتُدْخِلُهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِي ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفِظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.
اَللَّهُمَّ يَامُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ ِلإِقَامَتِهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَسُبْحَانَ رَبُّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Read More …